Sutejo*
Ada ungkapan menarik dari Remy Silado, “Orang mengamati kehidupan lalu menyimpan dalam daya kreatif. Sewaktu-waktu bisa dia panggil untuk dijadikan tulisan.” (Mata Baca, edisi September 2005:8). Realita, karena itu, adalah kekuatan alam yang dapat berdaya magis bagi pemilik daya kreatif. Ia sebentuk cakra kehidupan yang senantiasa memancarkan makna. Kehidupan itu menjadi semacam tempat rekreasi mata, kemudian menjadi rekreasi hati jika kita meminjam ungkapan Ibnu Duraid.
Sebab, Ibnu Duraid ketika para sahabatnya banyak bercerita tentang keindahan alam dan realitanya, dia bilang bahwa “Kitab ‘Uyunul Akhbar karya Al Qatabi, Az-Zuhroh karya Ibnu Abi Thahir merupakan tempat rekreasi yang luar biasa. Mengapa? Memang, buku menjadi tempat ”meditasi”, berenung, dan berdialog tentang berbagai pernik kehidupan. Menulis dan membaca, tentu, merupakan sarana penting yang menghubungkan keduanya.
Kepekaan menangkap realitas, karenanya, sangat dibutuhkan oleh penulis. Meskipun, media misalnya, dalam pandangan Remy Silado, pertama-tama akan melihat nama, tetapi bukan berarti hal itu merupakan jaminan mutlak. Di sinilah, maka pentingnya kreativitas penulis untuk berani berbeda dengan yang lain. Lha, keberanian ini bisa dimulai dari main-main berbeda yang dapat dimuat di buletin maupun majalah dinding sekolah (kampus).
Meskipun memang, ada teori bahwa di dalam menulis yang termudah adalah pengekoran tetapi tentunya, yang dibutuhkan adalah pengekoran yang kreatif. Jika tidak kita hanya akan menjadi fotokopi saja dari para penulis yang lainnya. Bakat nyleneh dibutuhkan. Baik itu dalam pengungkapan maupun dalam membuat lompatan berbahasa. Istilah Remy Silado, bagaimana bahasa dan kalimat yang disusun juga beraroma rasa tertentu (wah, tentu, yang ini bukan aroma stroberi, apel, atau apokat). Tetapi, bagaimana bahasa dan kalimat itu bernas; menghindari bahasa manerisme (klise).
Untuk itulah, maka keberanian memilih kata yang jarang dipergunakan juga tantangan berani yang perlu dipilih penulis. Begitulah, Remy Silado bermula di masa SMP sering mendapat tugas menulis cerpen dari guru bahasa Indonesianya. Dengan, pengalaman ini ia semakin tertantang untuk kreatif memilih dan melakukan sesuatu bahasa yang berbeda, baik rasa dan kata. Tak heran, ini kemudian yang melambungkannya menjadi penulis, seniman, pemusik yang luar biasa karyanya.
Ada pesan menarik, barangkali yang dapat dipetik, bahwa dalam pembelajaran di sekolah, maka guru bahasa Indonesia sebanyak mungkin memberikan pengasuhan dan pendampingan dalam kepenulisan ini. Sebuah ritus persalinan kata-kata yang hanya bisa lahir dari para ”ibu kandung” yang matang (baca: guru), yang akan memikat pembaca. Ibu kandung ini tentu adalah seorang penulis yang bertali rasa dengan realita, bercakra dalam imajinasi, dan berjangkar dalam sangkar hati.
Budaya cangkeman, budaya mulut (istilah Remy Sylado), sebaiknya mulai disimpan; budaya susun kata dan ungkap pikir dalam jernih rasa menjadi alternatif mendewasakan manusia. Jika para guru saja tersesat dalam jual beli karya ilmiah, maka ini merupakan pemunafikkan dari kodrat manusia ”sang penulis” (ingat: metaforik surat Al-’Alaq). Barangkali, ini akan menjadi ”dosa terbesar” lain yang ”tidak terampuni”. Karena ideologi gengsi dipuja dan manajemen isi dikebumikan. Sebuah realita pesakitan tapi dirayakan tanpa malu dan rasa, sehingga semakin mengerdilkan pikiran anak-anak zaman.
Jika kita mau berguru pada para penulis, katakanlah, Remy Sylado atau Ibnu Duraid yang disebutkan di awal tulisan ini; maka sebenarnya kita dapat mudah untuk melakukannya. Bukan terbalik, seakan-akan cerdik berkarya karena lolos kepangkatan sambil pamer pangkat kepada koleganya. Sebuah dusta yang akan melahirkan generasi penipu di masa depan. Sudah bukan rahasia umum, jika para guru banyak pergi ke ”mesin jahit intelektual” untuk berbagai kepentingan: pangkat dan sertifikasi.
Marilah kita ajari mereka untuk belajar olah kata, memasak kalimat dengan bumbu kehidupan, sehingga antara hati dan kata anak-anak zaman ini tidak semakin buram. Perjalanan seribu kilometer, tentu, dialawali dari langkah pertama (dalam dunia motivasi hal ini sudah menjadi filosofi gerak). Jika perjalanan kreativitas kepenulisan anak bangsa ini kita tebarkan, langkah kesadaran untuk tidak gemar menipu adalah alternatif langkah pertama itu.
Melangkahlah anak-anakku, generasi kata yang tidak terhenti oleh sindiran orang tak pendidikan, ”Ah, teori!” Jadikanlah, diri kita museum kehidupan yang setiap saat sejarah dapat digugah, kenyataan dapat dirasa, dan perubahan dapat dicerna. Karena cermin kehidupan begitu mudah kita temukan dalam karya anak-anak yang tenang, senang, bercengkerama di musium kehidupan. Rawatlah generasiku, musium kehidupan ini untuk monumen sukses Anda di masa depan! Begitulah, barangkali bahasa motivasi jika kita petik dari bahasa metaforik Remy Sylado. Kehidupan katanya, menyimpan daya kreatif. Hidup harus kreatif, terlebih menulis wajib kreatif.
Pendek kata, jika kita berguru pada Aristoteles dengan teori mimetik-nya, sesungguhnya secara historis makna museum kehidupan yang berdaya kreatif ini adalah pesan terus penting dibumikan. Puluhan buku –yang cenderung berbeda dari Remy Sylado— adalah wujud kreativitasnya. Cau Bau Kan, Kerudung Merah Kirmidzi, Kerygma dan Martyria adalah contoh buku-bukunya yang khas dalam pemilihan diksinya. Sebuah pemantik untuk menelisik di satu sisi dan di sisi lain memberikan ”ruang kreatif” yang tak bertepi.
Permasalahannya adalah bagaimana membumikan makna kreatif ini bagi kita? Semuanya, memang tergantung kita. Tetapi, jika kita menyadari keberhasilan hidup yang dipilih seseorang sesungguhnya buah gerak dari idola yang telah mengendap ke bawah sadar kita. Karena itu, endapkanlah menjadi bagian bawah sadar sehingga akan mengkarakter. Karakterisasi seorang penulis, pada akhirnya, adalah ujung yang ”mutlak” harus kita temukan. Begitulah kemudian jika kita sudah tersadar: ternyata gaya masing-masing penulis sungguh beragam. Budi Darma, Putu Wijaya, Remy Sylado, Kuntowijoyo, Seno Gumira Adji Darma, Ayu Utami, Joni Ariadinata, dan puluhan penulis muda lainnya.
Kilauan karya mereka sesungguhnya jendela yang terbuka. Pintu kehidupan bagi bangsa yang besar dan sadar. Dan, pijar penuntun bagi kita yang terkesima oleh dunia kreatif yang menyadarkan.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Kamis, 06 November 2008
BELAJAR MENULIS DARI OATES
Sutejo
Joyce Carol Oates (Oates) adalah seorang penulis produktif yang telah menulis 70 puluh novel, koleksi puisi, dan cerita pendek. Beberapa diantaranya telah memenangkan hadiah tertinggi di bidangnya. Them mememangkan National Book Award (1970) untuk fiksi; A Garden of Earthly Delights (1970) dan Expensive People (1969) dinominasikan untuk National Book Award; What I Live For (1994) dinominasikan untuk Pulitzer Prize dan PEN/Faulkner Award for Fiction. Dia juga penerima hadiah O’Henry Special Award for Continuing Achievement.
Apa yang dapat dipelajari di Oates ini? Pertama, dia menulis tidak menggunakan mesin ketik (atau komputer) tetapi dengan menulis tangan. Kedua, sebelum menulis buku (termasuk puisi-puisi yang berarti) terlebih dulu dia banyak menulis tentang sesuatu. Ketiga, tidak peduli terhadap kritik (negatif) atas karya-karyanya.
”Semua penulis,” akunya, ”menemukan diri mereka berdentangan setiap saat, dari waktu ke waktu; kupikir pengalaman adalah suatu pembebasan yang luar biasa: setelah kematian pertama tak akan ada (kematian) lainnya. Seorang penulis yang telah menerbitkan buku sebanyak yang saya lakukan berarti penulis itu telah berkembang, sesuatu yang memang dibutuhkan –sesuatu yang tersembunyi seperti seekor badak yang menyembunyikan culanya, sementara di dalam dirinya bercokol kelemahan, keragu-raguan yang penuh harapan.” (George Plimton, 2007:334-335).
Ada hal menarik dari pengalaman penulis besar ini. Kalau selama ini banyak orang beralasan tidak mampu menulis karena tidak memiliki sarana komputer atau mesin ketik, maka logika pengalaman kepenulisan Oates ini akan menjadi kritik tajam yang menghunjam. Tokoh ini memberi contoh menjawab alibi klise yang seringkali menjadi lagu rutin ketika ajakan menulis ini kita tebarkan. Hal ini, tentu, mengingatkan pengalaman seorang Profesor dari Bandung yang sangat produktif berkarya, yang ternyata kemudian beliau juga menuliskan semua buku lewat tulisan tangan. Beliau adalah seorang pendidik yang dikenal dengan nama: Prof. Dr. Henry Guntut Tarigan. Tidak banyak yang tahu, kala beliau menulis skrip buku dalam tulis tangannya, tetapi dalam akunya dalam sebuah media beberapa tahun lalu, ”dia menuliskannya dengan menulis tangan.” Luar biasa! Inilah makna pertama yang dapat kita jinjing tinggi.
Matra makna belajar menulis lain yang dapat dicerna adalah bahwa awal kepenulisan karya Oates selalu diwali dengan menuliskannya tentang sesuatu. Filosofi belajarnya adalah latih refleksi kritis untuk menggali ekspresi batin dan pikir. Dengan begitu, barangkali akan mengeram, mengendap, dan memunculkan inkubasi ide --yang kemudian— menjalar menjadi pendar karya. Semacam pergulatan permenungan yang dipantik dengan kebiasaan sadar-tanggap. Dan, dalam tradisi pengalaman banyak penulis, memang inilah, embrio orok sebuah karya. Danarto, misalnya, selalu mengungkapkan pengalaman realitas ini dengan menuliskannya dalam buku harian. Untuk ini, jika kita termotivasi berkarya (menulis) tentu, membiasakan mengungkapkan sesuatu akan menjadi pintu penting lahirnya orok-orok karya kita yang memesona.
Dan makna belajar berkarya ketiga yang menarik diambil adalah bahwa kritik negatif atas karya penting untuk ”diabaikan”. Abai dan ”tidak peduli” dalam konteks ini adalah transformasi dari filosofi karya (tulis) hakikatnya merupakan kegagalan yang indah. Sebuah falsafah yang akan menggerakkan, memberikan daya ubah, dan karena kodratinya, dimensionalitas karya adalah wajar. Komentar dan kritik seringkali karena ”kacamata” yang digunakan sering berbeda, --dan memang—bukanlah sebuah ritus kudus penggunaan kacamata kuda.
Sebagaimana tasbih Oantes sendiri, yang selalu tak pernah puas terhadap karya. Dan karenanya, kritik atas karya, adalah biasa. Cuek yang menyimpan daya ubah dalam berkarya, sebangun makna qanaah dalam memaknai takdir yang kita terima dalam tabir relijius kemusliman kita. Pasrah dan qanaah sebagai belajar berselancar memetik i’tibar. Sebuah ruh perjalanan kepenulisan yang akan mengantarkan kita pada belalantara makna, bukan sekadar kosa kata yang terbaca.
Kegagalan karena itu, jika kita pahami makna kritik atas karya, maka tokoh-tokoh legendaris (tasbih sosok kehidupan) macam Leonardo da Vinci, Issac Newton, Thomas A. Edison, Einstein, dan Bill Gates adalah pelaku (ngelmu) yang –paling tidak— juga menerapkan pesan metaforik kegagalan yang indah ini. Sekaligus mereka adalah sosok kritik atas ”kemuakan dengan sekolah”, karena itu, drop out atau dikeluarkan (Eko Laksono, 2007:235). Sebuah realita yang mengejutkan, sekaligus menyakitkan. Di sinilah, tentu, pentingnya upaya mendorong sekolah untuk mampu menciptakan kultur yang ”tidak mengungkung” tetapi justru mampu menyediakan budaya ”krasan” sehingga lahirlah peran. Sebuah mimpi di tengah kolonialisasi pendidikan yang dipagut oleh kapitalisasi dan instanisasi.
Dunia menulis dan berkarya dengan sendirinya adalah sebuah pintu terbuka (wajib kritik) yang tentu berbeda dengan tradisi sekolah kita. Otoritas pembelajar adalah semacam pewaris mental Siti Jenar dalam memendar kenyakinannya dalam berlaku. Kritik dan ”hukuman” adalah pembabtisan yang wajar, tetapi etos dan nyali kenyakinannya adalah mutiara zaman –yang entah— kapan kilau itu bersinar.
Sebuah dimensionalitas hidup yang tidak dalam kacamata tunggal! Mari, belajar menulis dalam pigura makna pesan Oantes. Sebuah keikhlasan dalam penilaian negatif orang. Laku Syeikh Siti Jenar dalam tamasya keyakinan.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Joyce Carol Oates (Oates) adalah seorang penulis produktif yang telah menulis 70 puluh novel, koleksi puisi, dan cerita pendek. Beberapa diantaranya telah memenangkan hadiah tertinggi di bidangnya. Them mememangkan National Book Award (1970) untuk fiksi; A Garden of Earthly Delights (1970) dan Expensive People (1969) dinominasikan untuk National Book Award; What I Live For (1994) dinominasikan untuk Pulitzer Prize dan PEN/Faulkner Award for Fiction. Dia juga penerima hadiah O’Henry Special Award for Continuing Achievement.
Apa yang dapat dipelajari di Oates ini? Pertama, dia menulis tidak menggunakan mesin ketik (atau komputer) tetapi dengan menulis tangan. Kedua, sebelum menulis buku (termasuk puisi-puisi yang berarti) terlebih dulu dia banyak menulis tentang sesuatu. Ketiga, tidak peduli terhadap kritik (negatif) atas karya-karyanya.
”Semua penulis,” akunya, ”menemukan diri mereka berdentangan setiap saat, dari waktu ke waktu; kupikir pengalaman adalah suatu pembebasan yang luar biasa: setelah kematian pertama tak akan ada (kematian) lainnya. Seorang penulis yang telah menerbitkan buku sebanyak yang saya lakukan berarti penulis itu telah berkembang, sesuatu yang memang dibutuhkan –sesuatu yang tersembunyi seperti seekor badak yang menyembunyikan culanya, sementara di dalam dirinya bercokol kelemahan, keragu-raguan yang penuh harapan.” (George Plimton, 2007:334-335).
Ada hal menarik dari pengalaman penulis besar ini. Kalau selama ini banyak orang beralasan tidak mampu menulis karena tidak memiliki sarana komputer atau mesin ketik, maka logika pengalaman kepenulisan Oates ini akan menjadi kritik tajam yang menghunjam. Tokoh ini memberi contoh menjawab alibi klise yang seringkali menjadi lagu rutin ketika ajakan menulis ini kita tebarkan. Hal ini, tentu, mengingatkan pengalaman seorang Profesor dari Bandung yang sangat produktif berkarya, yang ternyata kemudian beliau juga menuliskan semua buku lewat tulisan tangan. Beliau adalah seorang pendidik yang dikenal dengan nama: Prof. Dr. Henry Guntut Tarigan. Tidak banyak yang tahu, kala beliau menulis skrip buku dalam tulis tangannya, tetapi dalam akunya dalam sebuah media beberapa tahun lalu, ”dia menuliskannya dengan menulis tangan.” Luar biasa! Inilah makna pertama yang dapat kita jinjing tinggi.
Matra makna belajar menulis lain yang dapat dicerna adalah bahwa awal kepenulisan karya Oates selalu diwali dengan menuliskannya tentang sesuatu. Filosofi belajarnya adalah latih refleksi kritis untuk menggali ekspresi batin dan pikir. Dengan begitu, barangkali akan mengeram, mengendap, dan memunculkan inkubasi ide --yang kemudian— menjalar menjadi pendar karya. Semacam pergulatan permenungan yang dipantik dengan kebiasaan sadar-tanggap. Dan, dalam tradisi pengalaman banyak penulis, memang inilah, embrio orok sebuah karya. Danarto, misalnya, selalu mengungkapkan pengalaman realitas ini dengan menuliskannya dalam buku harian. Untuk ini, jika kita termotivasi berkarya (menulis) tentu, membiasakan mengungkapkan sesuatu akan menjadi pintu penting lahirnya orok-orok karya kita yang memesona.
Dan makna belajar berkarya ketiga yang menarik diambil adalah bahwa kritik negatif atas karya penting untuk ”diabaikan”. Abai dan ”tidak peduli” dalam konteks ini adalah transformasi dari filosofi karya (tulis) hakikatnya merupakan kegagalan yang indah. Sebuah falsafah yang akan menggerakkan, memberikan daya ubah, dan karena kodratinya, dimensionalitas karya adalah wajar. Komentar dan kritik seringkali karena ”kacamata” yang digunakan sering berbeda, --dan memang—bukanlah sebuah ritus kudus penggunaan kacamata kuda.
Sebagaimana tasbih Oantes sendiri, yang selalu tak pernah puas terhadap karya. Dan karenanya, kritik atas karya, adalah biasa. Cuek yang menyimpan daya ubah dalam berkarya, sebangun makna qanaah dalam memaknai takdir yang kita terima dalam tabir relijius kemusliman kita. Pasrah dan qanaah sebagai belajar berselancar memetik i’tibar. Sebuah ruh perjalanan kepenulisan yang akan mengantarkan kita pada belalantara makna, bukan sekadar kosa kata yang terbaca.
Kegagalan karena itu, jika kita pahami makna kritik atas karya, maka tokoh-tokoh legendaris (tasbih sosok kehidupan) macam Leonardo da Vinci, Issac Newton, Thomas A. Edison, Einstein, dan Bill Gates adalah pelaku (ngelmu) yang –paling tidak— juga menerapkan pesan metaforik kegagalan yang indah ini. Sekaligus mereka adalah sosok kritik atas ”kemuakan dengan sekolah”, karena itu, drop out atau dikeluarkan (Eko Laksono, 2007:235). Sebuah realita yang mengejutkan, sekaligus menyakitkan. Di sinilah, tentu, pentingnya upaya mendorong sekolah untuk mampu menciptakan kultur yang ”tidak mengungkung” tetapi justru mampu menyediakan budaya ”krasan” sehingga lahirlah peran. Sebuah mimpi di tengah kolonialisasi pendidikan yang dipagut oleh kapitalisasi dan instanisasi.
Dunia menulis dan berkarya dengan sendirinya adalah sebuah pintu terbuka (wajib kritik) yang tentu berbeda dengan tradisi sekolah kita. Otoritas pembelajar adalah semacam pewaris mental Siti Jenar dalam memendar kenyakinannya dalam berlaku. Kritik dan ”hukuman” adalah pembabtisan yang wajar, tetapi etos dan nyali kenyakinannya adalah mutiara zaman –yang entah— kapan kilau itu bersinar.
Sebuah dimensionalitas hidup yang tidak dalam kacamata tunggal! Mari, belajar menulis dalam pigura makna pesan Oantes. Sebuah keikhlasan dalam penilaian negatif orang. Laku Syeikh Siti Jenar dalam tamasya keyakinan.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Label:
Ponorogo Pos,
Sutejo,
The Reog Publishing
Ibnu Taimiyah: Tempat Rekreasi Terindah
Sutejo
Abu Nashr Al Mikali mengatakan, “Pada suatu kami membincangkan berbagai tempat rekreasi (paling indah), sedang Ibnu Duraid hadir bersama kami. Sebagian orang berkata, “Tempat yang paling indah adalah lembah yang berada di Damaskus.” Sementara, yang lain berkata, “Tempat yang paling elok adalah sungai Ubullah.” Yang lainnya berkata, “Sughdu Samarkand.” Yang lainnya berkata, “Lembah Bawwan.” Yang lainnya lagi, berkata, “Bunga Balakh (pohon).”
Lalu Ibnu Duraid berkata, “Semua yang kalian sebutkan hanyalah tempat rekreasi indah bagi pandangan mata, namun mengapa kalian tidak memikirkan tempat-tempat rekreasi bagi hati?” Kami bertanya, “Apa tempat rekreasi bagi hati, wahai Ibnu Duraid?” Ia berkata, “Kitab ‘Uyunul Akhbar karya Al Qatabi, Az-Zuhroh karya Ibnu Abi Thahir. Kemudian, ia melantunkan beberapa bait syair:
Kalau semua orang rekreasinya adalah biduanita
Juga gelas yang dituankan dan ditenggak
Maka hiburan dan rekreasi kami adalah
Berdiskusi dan menelaah kitab. (Spiritual Writing, 2007:162)
Ungkapan Ibnu Duraid tentang tempat rekreasi yang indah ini tentu sangat luar biasa. Bayangkanlah, andaikan masyarakat kita menjadi kitab (buku) sebagai tempat rekreasi dalam kehidupannya maka dapat dibayangkan kualitas dari masyarakat kita. Akan tetapi, yang terjadi sebagian besar kita menganggap tempat rekreasi adalah fisik, tempat-tempat lahiriah yang hanya menjadi bersifat visual (mata). Sebagaimana di awal tulisan ini, maka wisata tempat pemandangan seindah apapun sifatnya hanyalah lahiriah. Kecuali, bagi penempuh ruh spiritual akan selalu mengaitkan dengan kebesaran Sang Alam ke dalam relung.
Andaikan setiap bulan misalnya, kita membeli buku sebagai tempat wisata yang terdekat, maka dalam satu tahun kita telah memiliki 12 tempat wisata hati. Andaikan 10 tahun maka kita telah memiliki 120 tempat wisata hati. Dan, andaikan umur kita 65 tahun, dan mulai memikirkan buku sebagai tempat wisata di umur 10 tahun; maka minimal 660 tempat wisata telah kita miliki. Andaikan kemudian, satu kabupaten saja yang melakukan wisata jenis ini 1000 orang saja, maka sudah ada 660.000 tempat wisata hati. Ini, akan menjadi kekayaan yang luar biasa bagi keluarga, anak-anak, dan masyarakat kita di masa depan. Di tingkat kabupaten.
Fatalnya, masyarakat kita masih memandang hal ini dengan sebelah mata. Bahkan, para guru pun belum menjadikan tempat wisata hati yang utama dalam kehidupannya. Guru dan masyarkat kita masih suka mengoleksi sepeda motor baru, mobil baru, dan peralatan lainnya; yang sebenarnya hanyalah bentuk wisata fisik. Pesan, Ibnu Duraid ini, tentu menjadi sangat menyentuh jika kita kaitkan dengna konteks mutakhir. Sebab, bagaimanapun memang perubahan kehidupan berawal dari jenis wisata hati ini. Ilmu pengetahuan berkembang, kreativitas tergali, nyali berkompetesi terteruji; bukan kebiasaan saling memaki dan menghegemoni.
Untuk inilah, maka di masyarakat kita penting kita budayakan wisata hati ini. Sehingga, akan menjadi sebuah impian kita menemukan masyarakat di mana pun memegang dan membaca buku: antri di bank membaca buku, menunggu di tempat parker membaca buku, bercengkerama di warung membaca buku, santai di alon-alon membaca buku, di ruang-ruang tamu rumah kita penuh buku; dan seterusnya. Sebuah masyarakat pembelajar yang akan berpijar di masa depan.
Jika masyarakat pembelajar terbentuk seperti impan Andreas Harefa dalam bukunya, Menjadi Manusia Pembelajar (Penerbit Buku Kompas, 2005); maka semangat dan motivasi berubah masyarakat kita akan luar biasa. Tradisi lisan masyarakat pelan-pelan akan tergantikan dengan impian yang demikian. Kapan kita akan berubah ke wisata hati jenis ini? Tentunya, dapat kita mulai hari ini, minggu ini, atau bulan ini. Jangan ditunda pada bulan depan, sehingga perubahan pada keluarga dan masyarakat kita akan cepat tercipta. Mudah-mudahan.
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Abu Nashr Al Mikali mengatakan, “Pada suatu kami membincangkan berbagai tempat rekreasi (paling indah), sedang Ibnu Duraid hadir bersama kami. Sebagian orang berkata, “Tempat yang paling indah adalah lembah yang berada di Damaskus.” Sementara, yang lain berkata, “Tempat yang paling elok adalah sungai Ubullah.” Yang lainnya berkata, “Sughdu Samarkand.” Yang lainnya berkata, “Lembah Bawwan.” Yang lainnya lagi, berkata, “Bunga Balakh (pohon).”
Lalu Ibnu Duraid berkata, “Semua yang kalian sebutkan hanyalah tempat rekreasi indah bagi pandangan mata, namun mengapa kalian tidak memikirkan tempat-tempat rekreasi bagi hati?” Kami bertanya, “Apa tempat rekreasi bagi hati, wahai Ibnu Duraid?” Ia berkata, “Kitab ‘Uyunul Akhbar karya Al Qatabi, Az-Zuhroh karya Ibnu Abi Thahir. Kemudian, ia melantunkan beberapa bait syair:
Kalau semua orang rekreasinya adalah biduanita
Juga gelas yang dituankan dan ditenggak
Maka hiburan dan rekreasi kami adalah
Berdiskusi dan menelaah kitab. (Spiritual Writing, 2007:162)
Ungkapan Ibnu Duraid tentang tempat rekreasi yang indah ini tentu sangat luar biasa. Bayangkanlah, andaikan masyarakat kita menjadi kitab (buku) sebagai tempat rekreasi dalam kehidupannya maka dapat dibayangkan kualitas dari masyarakat kita. Akan tetapi, yang terjadi sebagian besar kita menganggap tempat rekreasi adalah fisik, tempat-tempat lahiriah yang hanya menjadi bersifat visual (mata). Sebagaimana di awal tulisan ini, maka wisata tempat pemandangan seindah apapun sifatnya hanyalah lahiriah. Kecuali, bagi penempuh ruh spiritual akan selalu mengaitkan dengan kebesaran Sang Alam ke dalam relung.
Andaikan setiap bulan misalnya, kita membeli buku sebagai tempat wisata yang terdekat, maka dalam satu tahun kita telah memiliki 12 tempat wisata hati. Andaikan 10 tahun maka kita telah memiliki 120 tempat wisata hati. Dan, andaikan umur kita 65 tahun, dan mulai memikirkan buku sebagai tempat wisata di umur 10 tahun; maka minimal 660 tempat wisata telah kita miliki. Andaikan kemudian, satu kabupaten saja yang melakukan wisata jenis ini 1000 orang saja, maka sudah ada 660.000 tempat wisata hati. Ini, akan menjadi kekayaan yang luar biasa bagi keluarga, anak-anak, dan masyarakat kita di masa depan. Di tingkat kabupaten.
Fatalnya, masyarakat kita masih memandang hal ini dengan sebelah mata. Bahkan, para guru pun belum menjadikan tempat wisata hati yang utama dalam kehidupannya. Guru dan masyarkat kita masih suka mengoleksi sepeda motor baru, mobil baru, dan peralatan lainnya; yang sebenarnya hanyalah bentuk wisata fisik. Pesan, Ibnu Duraid ini, tentu menjadi sangat menyentuh jika kita kaitkan dengna konteks mutakhir. Sebab, bagaimanapun memang perubahan kehidupan berawal dari jenis wisata hati ini. Ilmu pengetahuan berkembang, kreativitas tergali, nyali berkompetesi terteruji; bukan kebiasaan saling memaki dan menghegemoni.
Untuk inilah, maka di masyarakat kita penting kita budayakan wisata hati ini. Sehingga, akan menjadi sebuah impian kita menemukan masyarakat di mana pun memegang dan membaca buku: antri di bank membaca buku, menunggu di tempat parker membaca buku, bercengkerama di warung membaca buku, santai di alon-alon membaca buku, di ruang-ruang tamu rumah kita penuh buku; dan seterusnya. Sebuah masyarakat pembelajar yang akan berpijar di masa depan.
Jika masyarakat pembelajar terbentuk seperti impan Andreas Harefa dalam bukunya, Menjadi Manusia Pembelajar (Penerbit Buku Kompas, 2005); maka semangat dan motivasi berubah masyarakat kita akan luar biasa. Tradisi lisan masyarakat pelan-pelan akan tergantikan dengan impian yang demikian. Kapan kita akan berubah ke wisata hati jenis ini? Tentunya, dapat kita mulai hari ini, minggu ini, atau bulan ini. Jangan ditunda pada bulan depan, sehingga perubahan pada keluarga dan masyarakat kita akan cepat tercipta. Mudah-mudahan.
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Label:
Ponorogo Pos,
Sutejo,
The Reog Publishing
BELAJAR MENULIS DARI MARIA A SARDJONO*
Sutejo
Membaca dan menulis bagi Maria A. Sardjono telah begitu mendarah daging. "Kakek saya dulu teman Marah Rusli, pengarang roman Siti Nurbaya," tutur perempuan kelahiran 22 April 1945 ini. Sejak masih berusia sangat dini, buku bukan merupakan benda langka ditemukan di rumah. Seluruh anggota keluarga memiliki kesukaan membaca.
Ia menulis sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, tulisan-tulisannya lebih banyak disimpan di laci meja. Kesukaan ini terus berlanjut. "Cerpen-cerpen yang saya tulis terus saja ada di dalam laci, enggak diapa-apain," kenang Maria. Sampai suatu hari, seorang kerabat berkunjung ke rumah dan membaca cerpen tersebut. Ia menyarankan agar cerpen tersebut dikirimkan ke majalah. "Ternyata tidak ada cerita-cerita yang dikembalikan," ungkap Maria. Sepanjang 30 tahun menulis, sudah 85 novel yang dia hasilkan.
Satu hal yang dirasakan Maria saat menga¬rang, ia begitu terhanyut dalam cerita. Ia tak pemah mampu membuat cerita horor. "Kalau selesai menulis cerita seram, komputer cepat-cepat dimatikan, dan saya lari ketakutan ke kamar," ungkapnya. Sebaliknya, setiap kali me¬nulis tentang dua insan yang sedang bercinta, penulis yang baru menyelesaikan studi S2 di bidang filsafat humaniora ini mengaku sering terangsang sendiri.
Apa yang dapat dipetik dari Maria A Sardjono? Pertama, kebiasaan membaca dan menulisnya sejak dini. Untuk itulah, jika kita ingin menulis memang ya, menulis. Barangkali, memang, tidak membutuhkan teori. Membiasakan menulis, karena itu, merupakan kunci pertama. Belajar dari tokoh ini maka hukum kesuksesan menulis adalah membudayakan baca tulis. Ini penting karena membaca adalah proses belajar yang tidak henti, proses meminta yang tak bertepi.
Hanya, membaca yang bagaimana dapat dioptimalkan? Membaca dalam konteks ini tentunya adalah membaca kritis. Membaca dalam ruang dialog atas kebermaknaan. Di sinilah proses penting itu hingga bermanfaat sebagai bahan penting kepenulisan. Alat yang dapat dimanfaatkan untuk membaca ini menarik kita untuk memiliki kartu bacaan. Hasil bacaan dikartukan sebagai penjurus bahan kepenulisan.
Kedua, keluarga berpengaruh dalam mendukung peningkatan kemampuan menulis. Sebagaimana halnya, Maria A Sardjono, yang dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak asing dengan buku, maka hal berikut yang penting untuk kita pelajari adalah bagaimana menciptakan rumah tangga kita adalah sekolah kedua. Di sinilah, barangkali, peran orang tua menjadi sangat menentukan dalam memfasilitasi dengan buku-buku bagi anak-anaknya. Jika kita menginginkan sukses menulis, hal penting yang tak boleh dilupakan adalah “rumah buku” itu sendiri.
Beruntung memang Maria A Sardjono yang sejak kecil memiliki lingkungan keluarga yang menyuburkan tradisi baca tulisnya. Jika Anda ingin mengembangkan kepenulisan syarat kondisi rumah buku adalah sawah lapangnya.
Ketiga, pentingnya bank tulisan. Dari pengalaman menulis Maria, di awal, hal unik yang dapat diambil adalah kebiasaan menulisnya yang pada awalnya tidak ada motivasi untuk dikirimkan ke media massa tetapi kemudian setelah bertemu seorang teman Maria disarankan untuk dikirimkan ke media. Pada saat itu, ternyata, Maria sudah memiliki 30 cerita. Hebatnya, semuanya tidak tertolak (dimuat). Jika kita ingin sukses menulis, maka kita perlu memiliki bank tulisan. Dalam bahasa perbankan, barangkali, kita perlu menabung tulisan. Sehingga, tak mengherankan jika suatu waktu kita memiliki kekayaan yang luar biasa.
Untuk itu, mengapa kita tidak meniru pengalaman unik penulis ini? Marilah, saya ajak Anda untuk merenungkan kebiasaan menarik dari penulis Maria A Sardjono yang sekilas namanya mirip laki-laki. Tetapi, penulis ini adalah perempuan.
Jika kita masih ragu akan kemampuan menulis, barangkali, penting terus menulis sehingga tersimpan sejumlah tulisan –yang entah—suatu waktu pasti kita memiliki saat untuk mempublikasinya. Sebuah kebiasaan yang mudah dilakukan, manakala, kebiasaan itu dikondisikan dalam keluarga yang menopang untuk pengembangannya. Permasalahan: mengapa kita tidak mengawali? Bukankan keinginan indah jika tidak dimulai hanya bikin resah? Sering, saya bertemu dengan teman (siswa dan mahasiswa) sangat tertarik dengan menulis tetapi mereka belum memfasilitasinya ala Maria A Sardjono ini.
Kini, tiba saatnya giliran Anda untuk menciptakannya dalam keluarga selanjutnya jangan berpaling sebelum rekening honor itu mengisi rekening pribadi Anda. Selamat berjuang membangun keluarga dengan tulis menulis!
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Membaca dan menulis bagi Maria A. Sardjono telah begitu mendarah daging. "Kakek saya dulu teman Marah Rusli, pengarang roman Siti Nurbaya," tutur perempuan kelahiran 22 April 1945 ini. Sejak masih berusia sangat dini, buku bukan merupakan benda langka ditemukan di rumah. Seluruh anggota keluarga memiliki kesukaan membaca.
Ia menulis sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, tulisan-tulisannya lebih banyak disimpan di laci meja. Kesukaan ini terus berlanjut. "Cerpen-cerpen yang saya tulis terus saja ada di dalam laci, enggak diapa-apain," kenang Maria. Sampai suatu hari, seorang kerabat berkunjung ke rumah dan membaca cerpen tersebut. Ia menyarankan agar cerpen tersebut dikirimkan ke majalah. "Ternyata tidak ada cerita-cerita yang dikembalikan," ungkap Maria. Sepanjang 30 tahun menulis, sudah 85 novel yang dia hasilkan.
Satu hal yang dirasakan Maria saat menga¬rang, ia begitu terhanyut dalam cerita. Ia tak pemah mampu membuat cerita horor. "Kalau selesai menulis cerita seram, komputer cepat-cepat dimatikan, dan saya lari ketakutan ke kamar," ungkapnya. Sebaliknya, setiap kali me¬nulis tentang dua insan yang sedang bercinta, penulis yang baru menyelesaikan studi S2 di bidang filsafat humaniora ini mengaku sering terangsang sendiri.
Apa yang dapat dipetik dari Maria A Sardjono? Pertama, kebiasaan membaca dan menulisnya sejak dini. Untuk itulah, jika kita ingin menulis memang ya, menulis. Barangkali, memang, tidak membutuhkan teori. Membiasakan menulis, karena itu, merupakan kunci pertama. Belajar dari tokoh ini maka hukum kesuksesan menulis adalah membudayakan baca tulis. Ini penting karena membaca adalah proses belajar yang tidak henti, proses meminta yang tak bertepi.
Hanya, membaca yang bagaimana dapat dioptimalkan? Membaca dalam konteks ini tentunya adalah membaca kritis. Membaca dalam ruang dialog atas kebermaknaan. Di sinilah proses penting itu hingga bermanfaat sebagai bahan penting kepenulisan. Alat yang dapat dimanfaatkan untuk membaca ini menarik kita untuk memiliki kartu bacaan. Hasil bacaan dikartukan sebagai penjurus bahan kepenulisan.
Kedua, keluarga berpengaruh dalam mendukung peningkatan kemampuan menulis. Sebagaimana halnya, Maria A Sardjono, yang dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak asing dengan buku, maka hal berikut yang penting untuk kita pelajari adalah bagaimana menciptakan rumah tangga kita adalah sekolah kedua. Di sinilah, barangkali, peran orang tua menjadi sangat menentukan dalam memfasilitasi dengan buku-buku bagi anak-anaknya. Jika kita menginginkan sukses menulis, hal penting yang tak boleh dilupakan adalah “rumah buku” itu sendiri.
Beruntung memang Maria A Sardjono yang sejak kecil memiliki lingkungan keluarga yang menyuburkan tradisi baca tulisnya. Jika Anda ingin mengembangkan kepenulisan syarat kondisi rumah buku adalah sawah lapangnya.
Ketiga, pentingnya bank tulisan. Dari pengalaman menulis Maria, di awal, hal unik yang dapat diambil adalah kebiasaan menulisnya yang pada awalnya tidak ada motivasi untuk dikirimkan ke media massa tetapi kemudian setelah bertemu seorang teman Maria disarankan untuk dikirimkan ke media. Pada saat itu, ternyata, Maria sudah memiliki 30 cerita. Hebatnya, semuanya tidak tertolak (dimuat). Jika kita ingin sukses menulis, maka kita perlu memiliki bank tulisan. Dalam bahasa perbankan, barangkali, kita perlu menabung tulisan. Sehingga, tak mengherankan jika suatu waktu kita memiliki kekayaan yang luar biasa.
Untuk itu, mengapa kita tidak meniru pengalaman unik penulis ini? Marilah, saya ajak Anda untuk merenungkan kebiasaan menarik dari penulis Maria A Sardjono yang sekilas namanya mirip laki-laki. Tetapi, penulis ini adalah perempuan.
Jika kita masih ragu akan kemampuan menulis, barangkali, penting terus menulis sehingga tersimpan sejumlah tulisan –yang entah—suatu waktu pasti kita memiliki saat untuk mempublikasinya. Sebuah kebiasaan yang mudah dilakukan, manakala, kebiasaan itu dikondisikan dalam keluarga yang menopang untuk pengembangannya. Permasalahan: mengapa kita tidak mengawali? Bukankan keinginan indah jika tidak dimulai hanya bikin resah? Sering, saya bertemu dengan teman (siswa dan mahasiswa) sangat tertarik dengan menulis tetapi mereka belum memfasilitasinya ala Maria A Sardjono ini.
Kini, tiba saatnya giliran Anda untuk menciptakannya dalam keluarga selanjutnya jangan berpaling sebelum rekening honor itu mengisi rekening pribadi Anda. Selamat berjuang membangun keluarga dengan tulis menulis!
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Label:
Ponorogo Pos,
Sutejo,
The Reog Publishing
BELAJAR MENULIS DARI ISBEDY SETIAWAN*
Sutejo
Nama penyair Lampung ini tampaknya tidak seakrab nama sastrawan kita macam Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Hamid Jabbar, Sutardji Calzoum Bahri, Wiji Thukul, dan lain sebagainya. Meskipun begitu dalam Isbedy adalah sastrawan yang tidak perlu lagi dipertanyakan komitmen dan eksistensinya dalam dunia kepenyairan (belakangan juga memasuki dunia cerpenis). Ada beberapa hal menarik dari pengakuannya. Meskipun lelaki ini mengaku bahwa menulis cerita pendek mulanya hanya untuk mengisi kejenuhan. Lama-lama keterusan. Bahkan, menjadi profesi dan tumpuan hidup (MataBaca, 2005:9). Kedua, dunia cerpen lebih menjanjikan. Ketiga, dalam menekuni kepenulisan dia berawal dari puisi. Keempat, karena “kebutuhan hidup” dia mencoba banyak menulis berbagai tulisan dari esai sastra, resensi buku, hingga cerpen.
Untuk ini, jika kita mau belajar dari pengalaman Isbedy Stiawan ini maka beragam hal menarik berikut penting direnungkan. Pertama, menulis puisi tidaklah dapat diremehkan. Pengalaman Isebedy ini menunjukkan bahwa dunia puisi merupakan pintu kepenulisannya. Artinya, memang menulis puisi pada awalnya menekankan pada ”kemenarikan kata dan larik”, maka memasuki dunia cerpen misalnya, tentu bukan persoalan yang susah. Para penyair yang juga menulis cerpen ini banyak seperti Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, Sutardji Calzaum Bahri, Tjahjono Widianto, dan sebagainya. Pengalaman awal kepenulisan lewat puisi ini mengingatkan apa yang dialami oleh Azyumardi Azra sebelum kemudian terjebak pada kepenulisan ilmiah.
Dengan begitu, menulis puisi misalnya, jika dikondisikan sejak usia SMA akan menjadi pentu tergalinya bakat kepenulisan. Setelah itu, maka hal kedua yang dapat diambil adalah “bahwa bakat hanyalah memberikan ruang potensi”. Setelah itu, keterpaksaan akan terpenuhi kebutuhan hidup itulah yang mendorongnya untuk berbuat lebih banyak. Kebutuhan hidup, karena itu, akan mampu melahirkan etos usaha (berkarya) yang luar biasa. Hasilnya, memang tidak tanggung. Belajar dari kasus cerpen Isbedy misalnya, dia bilang, kalau dimuat di Koran dia dapat honor, dikumpulkan menjadi buku kemudian dia dapat honor juga. Sebuah penerimaan ganda yang hal itu relatif berbeda di bandingkan dengan dunia puisi.
Sekadar pemaknaan, bahwa kepenyairan sebagai pintu kepenulisan barangkali dapat dirasionalkan seperti ini. Bahwa penyair sangat dipengaruhi oleh imajinasi awalnya sebelum alir lewat kata berirama dan bermakna. Imajinasi pada prosesnya akan mengingatkan pesan sufistik Einstein yang mengatakan bahwa imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan. Sumber segala ilmu kepenulisan tampaknya memang imajinasi. Di situlah kemudian mengalir dalam beragam bentuk tulisan setelah terjadi pematangan pada satu bidang tulisan. Ini wajar karena memang dunia kepenulisan sesungguhnya dunia yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Meminjam bahasa Abdul Hadi WM, hakikat kepenulisan dan substansi kehidupan adalah sesuatu yang komprehensif berkelindan antarsatu dengan yang lainnya. Bukan parsialisasi bidang yang hanya alirkan kejengahan dan kebimbangan.
Ketiga, bahwa kebermulaan dari iseng memang dapat melahirkan keberuntungan. Pengalaman Isebedy dalam mengisi “ruang beku” kepenyairan dengan menulis cerpen justru mengukuhkannya namanya yang kian meroket. Pada tahun 2005 saja misalnya, dia menerbitkan empat kumpulan cerpen yang menarik. Salah satunya adalah Kau Jadi Ikan. Isbedy Setiawan ini melengkapi tradisi penulis murni sebagaimana halnya Hamsad Rangkuti. Di sinilah, maka (berangkat dari pengalaman Isbedy) pintu-pintu genre tulisan lainnya ternyata hampir otomatis dapat ditulisnya. Pertanyaannya adalah apakah semua penulis (utamanya pemula) dapat melakukan seperti halnya Isbedy ini. Tentu jawabnya tidak. Semuanya tergantung pada proses pelakuan hidup penulis sendiri. Pesan tersirat dari perjalanan Isbedy ini adalah kelurusan dan etos yang tak henti berkarya. Kejenuhan berkarya dapat dialirkan pada hal lain yang juga bermakna.
Jika kita meminjam rumus sukses menulis A.A. Navis, maka terjumpailah bahwa bakat alam itu hanya berandil 20 persen saja sedangkan lainnya berupa etos, keuletan, dan kreativitas. Sebuah alarm yang senantiasanya mengingatkan bahwa menulis bukanlah turunan, tetapi sebuah upaya, sebuah ghirah, sebuah semangat yang berkobar-kobar. Menyala seperti gunung api yang siap mengalirkan panas dalam laku liku sungai kepenulisan di bawahnya.
Meski belum seberuntung Hamsad yang mendapatkan bonus Khatulistiwa Award, tetapi etos dan karyanya adalah jawaban atas bagaimana sebaiknya menjadi manusia. Sebagaimana disindirkan Hardjono WS bahwa ciri manusia adalah menulis kalau tidak menulis bukan manusia mendapatkan justifikasi alami karena kalau tidak menulis kebutuhan hidupnya jadi terganggu.
Jika kita pelajar, mahasiswa, atau guru misalnya, yang mau berkaca pada cermin personal Isbedy ini, maka rasa malu akan hinggap sepenuh waktu. Ketidakpastian hidupnya berubah motivasi karya yang luar biasa. Andaikan guru-guru kita, mahasiswa, dan siswa kita melakukannya, sebuah harapan luar biasa dapat dipuja. Mudah-mudahan pengalaman Isebedy demikian akan menjadi inspirasi kita manakala memutuskan jatuh cinta dengan dunia kepenulisan. Tunggu apalagi?
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Nama penyair Lampung ini tampaknya tidak seakrab nama sastrawan kita macam Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Hamid Jabbar, Sutardji Calzoum Bahri, Wiji Thukul, dan lain sebagainya. Meskipun begitu dalam Isbedy adalah sastrawan yang tidak perlu lagi dipertanyakan komitmen dan eksistensinya dalam dunia kepenyairan (belakangan juga memasuki dunia cerpenis). Ada beberapa hal menarik dari pengakuannya. Meskipun lelaki ini mengaku bahwa menulis cerita pendek mulanya hanya untuk mengisi kejenuhan. Lama-lama keterusan. Bahkan, menjadi profesi dan tumpuan hidup (MataBaca, 2005:9). Kedua, dunia cerpen lebih menjanjikan. Ketiga, dalam menekuni kepenulisan dia berawal dari puisi. Keempat, karena “kebutuhan hidup” dia mencoba banyak menulis berbagai tulisan dari esai sastra, resensi buku, hingga cerpen.
Untuk ini, jika kita mau belajar dari pengalaman Isbedy Stiawan ini maka beragam hal menarik berikut penting direnungkan. Pertama, menulis puisi tidaklah dapat diremehkan. Pengalaman Isebedy ini menunjukkan bahwa dunia puisi merupakan pintu kepenulisannya. Artinya, memang menulis puisi pada awalnya menekankan pada ”kemenarikan kata dan larik”, maka memasuki dunia cerpen misalnya, tentu bukan persoalan yang susah. Para penyair yang juga menulis cerpen ini banyak seperti Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, Sutardji Calzaum Bahri, Tjahjono Widianto, dan sebagainya. Pengalaman awal kepenulisan lewat puisi ini mengingatkan apa yang dialami oleh Azyumardi Azra sebelum kemudian terjebak pada kepenulisan ilmiah.
Dengan begitu, menulis puisi misalnya, jika dikondisikan sejak usia SMA akan menjadi pentu tergalinya bakat kepenulisan. Setelah itu, maka hal kedua yang dapat diambil adalah “bahwa bakat hanyalah memberikan ruang potensi”. Setelah itu, keterpaksaan akan terpenuhi kebutuhan hidup itulah yang mendorongnya untuk berbuat lebih banyak. Kebutuhan hidup, karena itu, akan mampu melahirkan etos usaha (berkarya) yang luar biasa. Hasilnya, memang tidak tanggung. Belajar dari kasus cerpen Isbedy misalnya, dia bilang, kalau dimuat di Koran dia dapat honor, dikumpulkan menjadi buku kemudian dia dapat honor juga. Sebuah penerimaan ganda yang hal itu relatif berbeda di bandingkan dengan dunia puisi.
Sekadar pemaknaan, bahwa kepenyairan sebagai pintu kepenulisan barangkali dapat dirasionalkan seperti ini. Bahwa penyair sangat dipengaruhi oleh imajinasi awalnya sebelum alir lewat kata berirama dan bermakna. Imajinasi pada prosesnya akan mengingatkan pesan sufistik Einstein yang mengatakan bahwa imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan. Sumber segala ilmu kepenulisan tampaknya memang imajinasi. Di situlah kemudian mengalir dalam beragam bentuk tulisan setelah terjadi pematangan pada satu bidang tulisan. Ini wajar karena memang dunia kepenulisan sesungguhnya dunia yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Meminjam bahasa Abdul Hadi WM, hakikat kepenulisan dan substansi kehidupan adalah sesuatu yang komprehensif berkelindan antarsatu dengan yang lainnya. Bukan parsialisasi bidang yang hanya alirkan kejengahan dan kebimbangan.
Ketiga, bahwa kebermulaan dari iseng memang dapat melahirkan keberuntungan. Pengalaman Isebedy dalam mengisi “ruang beku” kepenyairan dengan menulis cerpen justru mengukuhkannya namanya yang kian meroket. Pada tahun 2005 saja misalnya, dia menerbitkan empat kumpulan cerpen yang menarik. Salah satunya adalah Kau Jadi Ikan. Isbedy Setiawan ini melengkapi tradisi penulis murni sebagaimana halnya Hamsad Rangkuti. Di sinilah, maka (berangkat dari pengalaman Isbedy) pintu-pintu genre tulisan lainnya ternyata hampir otomatis dapat ditulisnya. Pertanyaannya adalah apakah semua penulis (utamanya pemula) dapat melakukan seperti halnya Isbedy ini. Tentu jawabnya tidak. Semuanya tergantung pada proses pelakuan hidup penulis sendiri. Pesan tersirat dari perjalanan Isbedy ini adalah kelurusan dan etos yang tak henti berkarya. Kejenuhan berkarya dapat dialirkan pada hal lain yang juga bermakna.
Jika kita meminjam rumus sukses menulis A.A. Navis, maka terjumpailah bahwa bakat alam itu hanya berandil 20 persen saja sedangkan lainnya berupa etos, keuletan, dan kreativitas. Sebuah alarm yang senantiasanya mengingatkan bahwa menulis bukanlah turunan, tetapi sebuah upaya, sebuah ghirah, sebuah semangat yang berkobar-kobar. Menyala seperti gunung api yang siap mengalirkan panas dalam laku liku sungai kepenulisan di bawahnya.
Meski belum seberuntung Hamsad yang mendapatkan bonus Khatulistiwa Award, tetapi etos dan karyanya adalah jawaban atas bagaimana sebaiknya menjadi manusia. Sebagaimana disindirkan Hardjono WS bahwa ciri manusia adalah menulis kalau tidak menulis bukan manusia mendapatkan justifikasi alami karena kalau tidak menulis kebutuhan hidupnya jadi terganggu.
Jika kita pelajar, mahasiswa, atau guru misalnya, yang mau berkaca pada cermin personal Isbedy ini, maka rasa malu akan hinggap sepenuh waktu. Ketidakpastian hidupnya berubah motivasi karya yang luar biasa. Andaikan guru-guru kita, mahasiswa, dan siswa kita melakukannya, sebuah harapan luar biasa dapat dipuja. Mudah-mudahan pengalaman Isebedy demikian akan menjadi inspirasi kita manakala memutuskan jatuh cinta dengan dunia kepenulisan. Tunggu apalagi?
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Label:
Ponorogo Pos,
Sutejo,
The Reog Publishing
BELAJAR MENULIS DARI MARDILUHUNG*
Sutejo
Ketika beberapa waktu lalu HU Mardiluhung menjadi pembicara di SMA Immersion Ponorogo, dia lebih banyak bercerita tentang apresiasi puisi dan bagaimana membaca puisi. Dalam perbincangan informal di rumah, di jelang pagi, Mardiluhung mengungkapkan beberapa hal menarik berkaitan dengan proses kreatifnya: (a) bahwa proses kreatif itu sebenarnya tidak bisa diceritakan, (b) bahwa menulis ternyata mengalami fase kritis (krisis), (c) menulis itu harus peka situasi karena itu sering mengamati kejadian sosial, dan (d) menulis itu butuh risearch.
Mardiluhung memang seorang guru, yakni pengajar di SMA NU Tuban. Tetapi, dalam dunia kepenulisan jika seseorang ingin belajar menulis maka dia pun guru menulis. Untuk itulah, kini ia hanya mengajar bahasa Indonesia khusus spesifikasi menulis. Setiap minggu satu jam pelajaran. Unik?
Saya sendiri tidak tahu mengapa Mardiluhung bilang bahwa menulis tidak dapat diceritakan. Mungkin karena proses seseorang menulis memang terjadi di bawah sadar, tetapi ini pun sebenarnya dalam teori relaksasi justru dapat ditelusur karena hal itu terjadi dalam wilayah gelombang alfa dan teta. Artinya, mimpi (teta) sekalipun dapat diceritakan apalagi proses kreatif yang berlangsung (kira-kira dalam wilayah alfa) kok tidak bisa diceritakan. Tapi bagaimanapun karena itu proses kreatif yang bersifat pribadi, personal, maka pengakuan seperti ini pun bukan hal aneh. Bukankah kepenulisan kreatif itu sendiri sebuah keanehan?
Pengalamannya tentang proses kreatif yang “unik” inilah, barangkali yang kemudian mengokohkan puisi-puisinya. Memang, HU lebih banyak menulis puisi daripada ulasan atau esai. Sepengetahuan saya, Mardiluhung baru menulis cerpen sekali. Tetapi untuk kepenyairannya dia boleh dibilang kokoh, jadi ikon angkatan 2000 yang dikukuhkan oleh Korri Layun Rampan. Di situlah, lagi dapat dipahami mengapa proses kreatif menulis puisinya tidak dapat diceritakan karena memang proses ini terjadi pada saat mooding. Istilah orang Jawa, dhong-dhongan. Lek ora pas dhong juga gak bisa.
Sebelum hadir di Ponorogo, saya memang sudah mengenal Mardiluhung tiga lahun lalu ketika di Bogor. Saat itu, memang ia sudah kelihatan “gendheng” di antara guru-guru bahasa Indonesia yang lain. Kegendhengan ini, kemudian dapat pembenaran dari Maman S. Mahayana yang mengatakan begini, “Jadi guru bahasa Indonesia memang harus gendheng”. Ungkapnya disambut riuh para guru yang gendheng pula. Saat itu pula, Taufik Ismail menceritakan pengalamannya diundang di Hongkong oleh para Cerpenis Urban di sana, sampai kemudian Taufik mempertanyakan motivasi menulis para guru.
Kedua, ternyata menulis seperti pula kehidupan pada umumnya. Artinya, mengalami krisis pula. Pengalaman Mardiluhung hampir 2-3 tahun dia mengalami krisis itu, yang anehnya memang tidak dapat dipaksakan (hal ini diceritakannya saat perjalanan Bogor-Ponorogo). Apa yang dilakukan? Ya, mengalir saja. Gak usah dipaksa, katanya. Pengarang dan sastrawan lainnya memang banyak juga yang mengalami hal demikian. Untuk itu, jika Anda nanti sudah mulai menulis, berjalan, tetapi kemudian mengalami krisis, gak usah risau. Memang hal itu terjadi secara “alami”.
Pada saat krisis ini, sepengetahuan saya memang ia sedang terlilit masalah hidup. Persoalan kesandung dalan alus, kecocok lancupan sing tanpa ngelancupi. Dia jatuh cinta lagi, dan aneh memang, seperti rekaman perjalanan dunia lucu yang seringkali membuat orang lain geli. Wajar? Ia, namun sebagaimana umumnya manusia, penulis pun bukan hal haram jatuh cinta meskipun sudah berkeluarga. Bukan penulis pun ternyata jauh lebih banyak, apalagi penulis memang kelebihan imajinasi.
Menulis menyatu dengan kondisi, inilah hal lain yang dapat dipelajari. Sebab memang menulis seringkali terpancing inspirasinya dari kehidupan realitas sosial. Tak heran, jika puisi-puisi Mardiluhung juga berbicara lokalitas Gresik dengan berbagai pernik kehidupannya. Tak heran jika ia berbicara juga tentang laut dan nelayan sebagaimana Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahhman dan penyair muda M. Faizi.
Terakhir, dan ini merupakan gejala penulisan karya sastra mutakhir adalah perlunya research dalam menulis, termasuk menulis puisi. Mardiluhung kini sedang menyelesaikan kumpulan puisi yang ditulis berdasarkan research lapangan di pulau Bawean. Sebuah reportase estetis? Mungkin. Tetapi juga tidak, karena karya sastra hakikatnya sebuah dunia tersendiri. Dunia imajinasi dengan tokoh imajinasi pula, sebuah dunia puisi dengan aku liris imajinasi pula, sebuah sapa pembaca dengan pembaca imajinasi pula.
Untuk ini, jika kita jujur belajar dari kepenulisan Mardiluhung barangkali kita perlu sesekali research, mengamati situasi lokal, peka krisis, dan gak usah terkejut ketika menulis kemudian ditanya tentang bagaimana proses kreatif kok tidak dapat menceritakannya. Sebagaimana pernah menjadi perdebatan tentang puisi Malam Lebaran Sitor Situmorang, maka proses kreatif tidak penting untuk diceritakan. Menghilangkan dimensi penafsiran, karena sifat situasionalisasi hanyalah bersifat kilasan, karena itu, hanyalah bersifat inspiratif. Bukan potret.***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Ketika beberapa waktu lalu HU Mardiluhung menjadi pembicara di SMA Immersion Ponorogo, dia lebih banyak bercerita tentang apresiasi puisi dan bagaimana membaca puisi. Dalam perbincangan informal di rumah, di jelang pagi, Mardiluhung mengungkapkan beberapa hal menarik berkaitan dengan proses kreatifnya: (a) bahwa proses kreatif itu sebenarnya tidak bisa diceritakan, (b) bahwa menulis ternyata mengalami fase kritis (krisis), (c) menulis itu harus peka situasi karena itu sering mengamati kejadian sosial, dan (d) menulis itu butuh risearch.
Mardiluhung memang seorang guru, yakni pengajar di SMA NU Tuban. Tetapi, dalam dunia kepenulisan jika seseorang ingin belajar menulis maka dia pun guru menulis. Untuk itulah, kini ia hanya mengajar bahasa Indonesia khusus spesifikasi menulis. Setiap minggu satu jam pelajaran. Unik?
Saya sendiri tidak tahu mengapa Mardiluhung bilang bahwa menulis tidak dapat diceritakan. Mungkin karena proses seseorang menulis memang terjadi di bawah sadar, tetapi ini pun sebenarnya dalam teori relaksasi justru dapat ditelusur karena hal itu terjadi dalam wilayah gelombang alfa dan teta. Artinya, mimpi (teta) sekalipun dapat diceritakan apalagi proses kreatif yang berlangsung (kira-kira dalam wilayah alfa) kok tidak bisa diceritakan. Tapi bagaimanapun karena itu proses kreatif yang bersifat pribadi, personal, maka pengakuan seperti ini pun bukan hal aneh. Bukankah kepenulisan kreatif itu sendiri sebuah keanehan?
Pengalamannya tentang proses kreatif yang “unik” inilah, barangkali yang kemudian mengokohkan puisi-puisinya. Memang, HU lebih banyak menulis puisi daripada ulasan atau esai. Sepengetahuan saya, Mardiluhung baru menulis cerpen sekali. Tetapi untuk kepenyairannya dia boleh dibilang kokoh, jadi ikon angkatan 2000 yang dikukuhkan oleh Korri Layun Rampan. Di situlah, lagi dapat dipahami mengapa proses kreatif menulis puisinya tidak dapat diceritakan karena memang proses ini terjadi pada saat mooding. Istilah orang Jawa, dhong-dhongan. Lek ora pas dhong juga gak bisa.
Sebelum hadir di Ponorogo, saya memang sudah mengenal Mardiluhung tiga lahun lalu ketika di Bogor. Saat itu, memang ia sudah kelihatan “gendheng” di antara guru-guru bahasa Indonesia yang lain. Kegendhengan ini, kemudian dapat pembenaran dari Maman S. Mahayana yang mengatakan begini, “Jadi guru bahasa Indonesia memang harus gendheng”. Ungkapnya disambut riuh para guru yang gendheng pula. Saat itu pula, Taufik Ismail menceritakan pengalamannya diundang di Hongkong oleh para Cerpenis Urban di sana, sampai kemudian Taufik mempertanyakan motivasi menulis para guru.
Kedua, ternyata menulis seperti pula kehidupan pada umumnya. Artinya, mengalami krisis pula. Pengalaman Mardiluhung hampir 2-3 tahun dia mengalami krisis itu, yang anehnya memang tidak dapat dipaksakan (hal ini diceritakannya saat perjalanan Bogor-Ponorogo). Apa yang dilakukan? Ya, mengalir saja. Gak usah dipaksa, katanya. Pengarang dan sastrawan lainnya memang banyak juga yang mengalami hal demikian. Untuk itu, jika Anda nanti sudah mulai menulis, berjalan, tetapi kemudian mengalami krisis, gak usah risau. Memang hal itu terjadi secara “alami”.
Pada saat krisis ini, sepengetahuan saya memang ia sedang terlilit masalah hidup. Persoalan kesandung dalan alus, kecocok lancupan sing tanpa ngelancupi. Dia jatuh cinta lagi, dan aneh memang, seperti rekaman perjalanan dunia lucu yang seringkali membuat orang lain geli. Wajar? Ia, namun sebagaimana umumnya manusia, penulis pun bukan hal haram jatuh cinta meskipun sudah berkeluarga. Bukan penulis pun ternyata jauh lebih banyak, apalagi penulis memang kelebihan imajinasi.
Menulis menyatu dengan kondisi, inilah hal lain yang dapat dipelajari. Sebab memang menulis seringkali terpancing inspirasinya dari kehidupan realitas sosial. Tak heran, jika puisi-puisi Mardiluhung juga berbicara lokalitas Gresik dengan berbagai pernik kehidupannya. Tak heran jika ia berbicara juga tentang laut dan nelayan sebagaimana Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahhman dan penyair muda M. Faizi.
Terakhir, dan ini merupakan gejala penulisan karya sastra mutakhir adalah perlunya research dalam menulis, termasuk menulis puisi. Mardiluhung kini sedang menyelesaikan kumpulan puisi yang ditulis berdasarkan research lapangan di pulau Bawean. Sebuah reportase estetis? Mungkin. Tetapi juga tidak, karena karya sastra hakikatnya sebuah dunia tersendiri. Dunia imajinasi dengan tokoh imajinasi pula, sebuah dunia puisi dengan aku liris imajinasi pula, sebuah sapa pembaca dengan pembaca imajinasi pula.
Untuk ini, jika kita jujur belajar dari kepenulisan Mardiluhung barangkali kita perlu sesekali research, mengamati situasi lokal, peka krisis, dan gak usah terkejut ketika menulis kemudian ditanya tentang bagaimana proses kreatif kok tidak dapat menceritakannya. Sebagaimana pernah menjadi perdebatan tentang puisi Malam Lebaran Sitor Situmorang, maka proses kreatif tidak penting untuk diceritakan. Menghilangkan dimensi penafsiran, karena sifat situasionalisasi hanyalah bersifat kilasan, karena itu, hanyalah bersifat inspiratif. Bukan potret.***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Label:
Ponorogo Pos,
Sutejo,
The Reog Publishing
BELAJAR MENULIS DARI LANG FANG*
Sutejo
Pada tanggal 8 Desember 2007 di Unesa Surabaya kampus Lidah adalah acara Seminar Nasional Sastra Pop untuk mengiringi pelepasan Prof Budi Darma yang purna sebagai guru besar. Pada saat itu hadir, sederetan penulis, penyair, cerpenis macam: Lang Fang, Yati Setiawan, Mashuri, Audex, Kurnia Fabiola, dan Budi Darma sendiri. Rencana, Saparto Broto juga hadir sebagai pembicara. Tapi saat itu tidak dapat hadir karena ada kepentingan keluarga di Jakarta.
Acara itu, di samping berbicara bagaimana Budi Darma, juga berbicara masing-masing proses kreatif para nara sumber. Satu yang dapat dipelajari dalam tulisan pendek ini adalah bagaimana proses kreatif Lang Fang sebagai seorang novelis dan cerpenis. Ketika peluncuran bukunya berjudul Kota Tanpa Kelamin (2007) di Toga Mas Surabaya, dia pun berbicara banyak tentang proses kreatifnya. Pada saat itu, saya bersama Uki (wartawan Antara) bertemu dengan penulis macam M. Shoim Anwar, HU Mardiluhung, Wawan Setiawan, Budi Darma, Syirikit Syah, dan beberapa penulis lainnya.
Dari dua pertemuan itu, apa yang dapat dipelajari dari proses kreatifnya? Beberapa hal berikut menarik untuk dipikirkan (a) bahwa proses kepenulisan itu mengikuti alir sungai (mengalir saja), (b) inspirasi dari karya orang lain, (c) pesan yang ingin dikomunikasikan sampai kepada pembaca, (d) tidak terganggu oleh kategori pop atau serius, dan (e) terus menerus belajar. Lima pesan spiritual yang menggerakkan kita manakala akan memasuki ruang dan peluang kepenulisan.
Pertemuan demikian jika kita mau belajar dan merefleksikannya sebagai sebuah “sekolah alam” tentunya terlalu pendek pertemuan itu jika tidak diabadikan dalam kolom pikiran. Untuk inilah, maka mari kita refleksikan sebagai bahan bincangan menariknya. Pertama, memang benar bahwa proses kepenulisan itu mengalir saja. Jika kita ingin menulis maka “pokoknya menulis”, mengalirkan berbagai pengalaman batin, refleksi kehidupan sosial, bagi tuang hasil bacaan. Sebuah perjalanan karya yang tidak perlu dipikirkan apakah itu nanti masuk karya kategori tertentu. Dengan demikian proses kreatif tidak terkebiri, sebaliknya menemukan jati dirinya yang “luar biasa” alami. Dengan demikian, menulis itu memang sebuah alir pikiran dan perasaan yang sangat dipengaruhi oleh alur dan alir sungai kebahasaan yang dimilikinya.
Permalahan yang sering terjadi di kalangan pemula adalah mereka bingung anak menulis apa dan jenis apa. Mengikuti saran Lan Fang ini, maka ada baiknya kita mengalir, dan jika kemengaliran itu mengantarkan kita di tepiannya atau berakhir di laut mana adalah persoalan hayatan setelah berwujud. Dengan demikian, kadang empirisitas ini kelihatannya naif tetapi sesungguhnya tidak. Pengalaman Andrea Hirata dapat dijadikan contoh. Pengalaman kekagumannya pada guru di SD menginspirasikan dia untuk menulis tulisan-tulisan pendek yang mengalir begitu saja dan dia tidak pernah membayangkan kemudian menjadi novel yang sekarang bestseller. Pertemuan tidak tertuda dengan teman lagi kemudian mengirimkannya ke Bentang adalah lorong rahasia Illahi (semacam karma positif dari gurunya).
Kedua, karena karya hakikatnya sebuah pesan sosial maka seseorang ketika berkarya hakikatnya berkomunikasi pesan dengan orang lain. Dalam konteks ini tentunya adalah pesan penulis (cerpenis) kepada pembacanya. Penting disadari pesan fiksional memang bukan seperti khotbah jumat, maka menemukan pesan karya membutuhkan apa yang di dalam proses pemaknaan karya sastra dikenal pentingnya bekal (a) kode bahasa seorang pembaca, (b) pemahaman akan kode budaya, dan (c) pemahaman akan kode kesastraan. Seorang pengarang maupun pembaca tentunya terikat oleh tiga kode ini yang dalam “proses komunikasi” karya (teks) terjadi interaksi positif dan imajinatif dalam pemaknaan. Sebuah pemaknaan yang khas, karena dalam teori resepsi sastra hal itu sangat tergantung pula pada pengalaman, pikiran, dan imajinasi pembaca. Tugas seorang pengarang, sebagaimana kata Lang Fang, yang penting pesan komunikasi karya dapat sampai pada pembaca.
Isyarat lain dari proses kreatif Lang Fang yang menarik adalah, ternyata icon atau patron guru juga mewarnai proses persalinan karyanya. Budi Darma dalam perjalanan karya-karyanya, tampaknya merupakan apa yang dalam analog cerita Kung Fu cerita Dragon Master, adalah sebuah pergulatan tidak langsung. “Menimba air” dan “mengangkat kayu” adalah bagian dari proses belajar tidak langsung, peselancaran mengarungi laut kepenulisan yang tanpa prasangka.
Di balik pengakuan ini, tentu menerbitkan akuan lain. Ternyata dalam proses berkarya –sebagaimana sering juga saya ungkapkan—tidak terlepas pergulatan guru murid. Budi Darma adalah guru, dan Lang Fang adalah sang murid yang baik. Dalam sebuah ruang kuliah S3, Budi Darma panjang bercerita tentang penulis ini dengan menceritakannya “bagian proses kreatif” dan kebiasaan kecilnya. Sebuah komunikasi positif antara guru murid yang “tidak sadar”. Artinya, pergulatan bawah sadar yang menggetarkan dalam aku kata bahasa. Baik guru dan terlebih muridnya. Dalam ilmu persilatan kata, jika ada murid yang alir jujur, sang guru adalah angguk dan sanjung yang mendorongnya. Di sinilah, maka pengalaman menarik yang penting dipantik jika akan menulis belajar dari Lang Fang ini adalah falsafah proses kreatif yang mendudukkan (termasuk mendudukkan sang guru).
Sifat keguruan (dalam pemodelan ini) tentunya bisa beragam wujud pengaruhnya: (a) kecenderungan karya dan sifatnya, (b) motivasi kekaryaan, (c) penajaman mental kepenulisan, (d) pembangunan networking kepenulisan, dan (e) getar gerak yang terus menghidupkan. Sebuah pembelajaran yang alami karena dalam konteks komunitas demikian hubungan antara guru murid adalah hubungan tanpa batas dan sekat. Sebuah keuntungan yang seringkali tidak kita temukan dalam ruang-ruang formal dinding sekolah (kuliah).
Terakhir, bagaimana dalam merengkuh kepenulisan tidak terjebak pada oreantasi tertentu (kapling-kapling kategorti tertentu) akan banyak membantu kebebasan seorang penulis. Sebagaimana halnya Lang Fang yang tidak terikat apakah ia karya populer atau serius, pokoknya dia berkarya. Mengalir. Hal ini ternyata justru memberikan motivasi besar dalam menulis. Sebab, sebagaimana diungkapkan pula dalam peluncuran kumpulan cerpennya Kota Tanpa Kelamin yang dimoderatori Arif Santosa (redaktur budaya Jawa Pos) dia tidak percaya akan kategori pop dan serius. Yang penting pesannya tersampaikan kepada pembaca.
Di balik itu semua, hal kelima yang menarik dipelajari dari Lang Fang adalah belajar terus menerus. Bagaimana belajar seorang penulis? Dengan membaca yang tidak pernah henti. Karena membaca adalah induk karya maka seorang penulis larangan terbesarnya adalah berhenti membaca. Belajar artinya memahami. Memahami artinya memaknai. Memaknai artinya menjalani proses dialogis. Proses dialogis akan alirkan kematangan. Sebuah kausalitas proses yang tak pernah berhenti yang ujungnya adalah hikmah belajar. Sebuah makna yang tidak selalu formal tetapi proses pemaknaan akan sisi-sisi kehidupan yang elegan (bersisi hati) hingga berpinak falsafi. Di manakah ruang henti belajar? Sebuah metaforik hadis mengingatkan kita bahwa sejulur umur adalah proses belajar itu sendiri yang bersifat wajib. Masalahnya, masyarakat kita belum menjadi ruhul hadis ini sebagai ideologi pemaknaan tetapi baru sebatas jargon khotbah di langgar dan masjid. Sebuah kemunafikan laten yang barangkali pada pantai tertentu akan berbalik jadi hukuman karena manusia tidak amanah dalam kata.
Akhirnya maukah kita berkarya? Jika kita sepakat dengan sindiran Hardjono WS yang pernah mengatakan di SMA Immersion, bahwa ciri manusia yang membedakan dengan makhluk lain adalah menulis; maka marilah kita menulis agar gelar kemanusiaan ini tidak tercabut secara alamiah. Bukankah pengalaman banyak negara maju berhasil karena faktor keberhasilan mereka dalam karya tulis dan intensitas pembacaan mereka? Jika kita sering menghujat realita sosial maka arifnya sudah waktunya kita untuk berbuat, bukan merintih-rintih sebagaimana yang dipesankan oleh Taufik Ismail.
Imaji konseptual tentang kehidupan sosial, misalnya, sebagaimana banyak diungkapkan Taufik Ismail dalam kumpulan puisinya berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2005) menarik untuk direfleksikan dalam kata dan karya. Mudah-mudahan masyarakat kita berubah dan mau berubah keadaan negeri yang berumah pedih ini sehingga kerobohannya terhindar karena warganya adalah pilar dan tembok hidupnya yang kokoh. Marilah kita kokohkan bangsa ini dengan menulis di satu sisi dan membaca pada sisi lainnya.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Pada tanggal 8 Desember 2007 di Unesa Surabaya kampus Lidah adalah acara Seminar Nasional Sastra Pop untuk mengiringi pelepasan Prof Budi Darma yang purna sebagai guru besar. Pada saat itu hadir, sederetan penulis, penyair, cerpenis macam: Lang Fang, Yati Setiawan, Mashuri, Audex, Kurnia Fabiola, dan Budi Darma sendiri. Rencana, Saparto Broto juga hadir sebagai pembicara. Tapi saat itu tidak dapat hadir karena ada kepentingan keluarga di Jakarta.
Acara itu, di samping berbicara bagaimana Budi Darma, juga berbicara masing-masing proses kreatif para nara sumber. Satu yang dapat dipelajari dalam tulisan pendek ini adalah bagaimana proses kreatif Lang Fang sebagai seorang novelis dan cerpenis. Ketika peluncuran bukunya berjudul Kota Tanpa Kelamin (2007) di Toga Mas Surabaya, dia pun berbicara banyak tentang proses kreatifnya. Pada saat itu, saya bersama Uki (wartawan Antara) bertemu dengan penulis macam M. Shoim Anwar, HU Mardiluhung, Wawan Setiawan, Budi Darma, Syirikit Syah, dan beberapa penulis lainnya.
Dari dua pertemuan itu, apa yang dapat dipelajari dari proses kreatifnya? Beberapa hal berikut menarik untuk dipikirkan (a) bahwa proses kepenulisan itu mengikuti alir sungai (mengalir saja), (b) inspirasi dari karya orang lain, (c) pesan yang ingin dikomunikasikan sampai kepada pembaca, (d) tidak terganggu oleh kategori pop atau serius, dan (e) terus menerus belajar. Lima pesan spiritual yang menggerakkan kita manakala akan memasuki ruang dan peluang kepenulisan.
Pertemuan demikian jika kita mau belajar dan merefleksikannya sebagai sebuah “sekolah alam” tentunya terlalu pendek pertemuan itu jika tidak diabadikan dalam kolom pikiran. Untuk inilah, maka mari kita refleksikan sebagai bahan bincangan menariknya. Pertama, memang benar bahwa proses kepenulisan itu mengalir saja. Jika kita ingin menulis maka “pokoknya menulis”, mengalirkan berbagai pengalaman batin, refleksi kehidupan sosial, bagi tuang hasil bacaan. Sebuah perjalanan karya yang tidak perlu dipikirkan apakah itu nanti masuk karya kategori tertentu. Dengan demikian proses kreatif tidak terkebiri, sebaliknya menemukan jati dirinya yang “luar biasa” alami. Dengan demikian, menulis itu memang sebuah alir pikiran dan perasaan yang sangat dipengaruhi oleh alur dan alir sungai kebahasaan yang dimilikinya.
Permalahan yang sering terjadi di kalangan pemula adalah mereka bingung anak menulis apa dan jenis apa. Mengikuti saran Lan Fang ini, maka ada baiknya kita mengalir, dan jika kemengaliran itu mengantarkan kita di tepiannya atau berakhir di laut mana adalah persoalan hayatan setelah berwujud. Dengan demikian, kadang empirisitas ini kelihatannya naif tetapi sesungguhnya tidak. Pengalaman Andrea Hirata dapat dijadikan contoh. Pengalaman kekagumannya pada guru di SD menginspirasikan dia untuk menulis tulisan-tulisan pendek yang mengalir begitu saja dan dia tidak pernah membayangkan kemudian menjadi novel yang sekarang bestseller. Pertemuan tidak tertuda dengan teman lagi kemudian mengirimkannya ke Bentang adalah lorong rahasia Illahi (semacam karma positif dari gurunya).
Kedua, karena karya hakikatnya sebuah pesan sosial maka seseorang ketika berkarya hakikatnya berkomunikasi pesan dengan orang lain. Dalam konteks ini tentunya adalah pesan penulis (cerpenis) kepada pembacanya. Penting disadari pesan fiksional memang bukan seperti khotbah jumat, maka menemukan pesan karya membutuhkan apa yang di dalam proses pemaknaan karya sastra dikenal pentingnya bekal (a) kode bahasa seorang pembaca, (b) pemahaman akan kode budaya, dan (c) pemahaman akan kode kesastraan. Seorang pengarang maupun pembaca tentunya terikat oleh tiga kode ini yang dalam “proses komunikasi” karya (teks) terjadi interaksi positif dan imajinatif dalam pemaknaan. Sebuah pemaknaan yang khas, karena dalam teori resepsi sastra hal itu sangat tergantung pula pada pengalaman, pikiran, dan imajinasi pembaca. Tugas seorang pengarang, sebagaimana kata Lang Fang, yang penting pesan komunikasi karya dapat sampai pada pembaca.
Isyarat lain dari proses kreatif Lang Fang yang menarik adalah, ternyata icon atau patron guru juga mewarnai proses persalinan karyanya. Budi Darma dalam perjalanan karya-karyanya, tampaknya merupakan apa yang dalam analog cerita Kung Fu cerita Dragon Master, adalah sebuah pergulatan tidak langsung. “Menimba air” dan “mengangkat kayu” adalah bagian dari proses belajar tidak langsung, peselancaran mengarungi laut kepenulisan yang tanpa prasangka.
Di balik pengakuan ini, tentu menerbitkan akuan lain. Ternyata dalam proses berkarya –sebagaimana sering juga saya ungkapkan—tidak terlepas pergulatan guru murid. Budi Darma adalah guru, dan Lang Fang adalah sang murid yang baik. Dalam sebuah ruang kuliah S3, Budi Darma panjang bercerita tentang penulis ini dengan menceritakannya “bagian proses kreatif” dan kebiasaan kecilnya. Sebuah komunikasi positif antara guru murid yang “tidak sadar”. Artinya, pergulatan bawah sadar yang menggetarkan dalam aku kata bahasa. Baik guru dan terlebih muridnya. Dalam ilmu persilatan kata, jika ada murid yang alir jujur, sang guru adalah angguk dan sanjung yang mendorongnya. Di sinilah, maka pengalaman menarik yang penting dipantik jika akan menulis belajar dari Lang Fang ini adalah falsafah proses kreatif yang mendudukkan (termasuk mendudukkan sang guru).
Sifat keguruan (dalam pemodelan ini) tentunya bisa beragam wujud pengaruhnya: (a) kecenderungan karya dan sifatnya, (b) motivasi kekaryaan, (c) penajaman mental kepenulisan, (d) pembangunan networking kepenulisan, dan (e) getar gerak yang terus menghidupkan. Sebuah pembelajaran yang alami karena dalam konteks komunitas demikian hubungan antara guru murid adalah hubungan tanpa batas dan sekat. Sebuah keuntungan yang seringkali tidak kita temukan dalam ruang-ruang formal dinding sekolah (kuliah).
Terakhir, bagaimana dalam merengkuh kepenulisan tidak terjebak pada oreantasi tertentu (kapling-kapling kategorti tertentu) akan banyak membantu kebebasan seorang penulis. Sebagaimana halnya Lang Fang yang tidak terikat apakah ia karya populer atau serius, pokoknya dia berkarya. Mengalir. Hal ini ternyata justru memberikan motivasi besar dalam menulis. Sebab, sebagaimana diungkapkan pula dalam peluncuran kumpulan cerpennya Kota Tanpa Kelamin yang dimoderatori Arif Santosa (redaktur budaya Jawa Pos) dia tidak percaya akan kategori pop dan serius. Yang penting pesannya tersampaikan kepada pembaca.
Di balik itu semua, hal kelima yang menarik dipelajari dari Lang Fang adalah belajar terus menerus. Bagaimana belajar seorang penulis? Dengan membaca yang tidak pernah henti. Karena membaca adalah induk karya maka seorang penulis larangan terbesarnya adalah berhenti membaca. Belajar artinya memahami. Memahami artinya memaknai. Memaknai artinya menjalani proses dialogis. Proses dialogis akan alirkan kematangan. Sebuah kausalitas proses yang tak pernah berhenti yang ujungnya adalah hikmah belajar. Sebuah makna yang tidak selalu formal tetapi proses pemaknaan akan sisi-sisi kehidupan yang elegan (bersisi hati) hingga berpinak falsafi. Di manakah ruang henti belajar? Sebuah metaforik hadis mengingatkan kita bahwa sejulur umur adalah proses belajar itu sendiri yang bersifat wajib. Masalahnya, masyarakat kita belum menjadi ruhul hadis ini sebagai ideologi pemaknaan tetapi baru sebatas jargon khotbah di langgar dan masjid. Sebuah kemunafikan laten yang barangkali pada pantai tertentu akan berbalik jadi hukuman karena manusia tidak amanah dalam kata.
Akhirnya maukah kita berkarya? Jika kita sepakat dengan sindiran Hardjono WS yang pernah mengatakan di SMA Immersion, bahwa ciri manusia yang membedakan dengan makhluk lain adalah menulis; maka marilah kita menulis agar gelar kemanusiaan ini tidak tercabut secara alamiah. Bukankah pengalaman banyak negara maju berhasil karena faktor keberhasilan mereka dalam karya tulis dan intensitas pembacaan mereka? Jika kita sering menghujat realita sosial maka arifnya sudah waktunya kita untuk berbuat, bukan merintih-rintih sebagaimana yang dipesankan oleh Taufik Ismail.
Imaji konseptual tentang kehidupan sosial, misalnya, sebagaimana banyak diungkapkan Taufik Ismail dalam kumpulan puisinya berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2005) menarik untuk direfleksikan dalam kata dan karya. Mudah-mudahan masyarakat kita berubah dan mau berubah keadaan negeri yang berumah pedih ini sehingga kerobohannya terhindar karena warganya adalah pilar dan tembok hidupnya yang kokoh. Marilah kita kokohkan bangsa ini dengan menulis di satu sisi dan membaca pada sisi lainnya.
***
*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos
Label:
Ponorogo Pos,
Sutejo,
The Reog Publishing
Langganan:
Postingan (Atom)